Tampilkan postingan dengan label Bukan Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bukan Sajak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Mei 2025

Awal

 Kompleksitas yang hanya mampu kita sebutkan Maha Segalanya, Dasar Segala Sesuatu, Sumber segala hal dan Sang satu adalah perwujudan dalam perbuatanNya mengendalikan kehidupan, pergerakan dan dampak bagi semesta naungan, melalui menaruh tiap ide berpasangan dengan karakter berisi emosi, ekspresi juga pandangan. Begitu Maha Agung, Yang Bertahta Itu. 


Hanya dengan ide yang bergerak lebih cepat dari apapun, tak tertebak dan berakar kokoh membentuk segala hal, terciptalah ledakan yang menggemparkan. Menghancurkan sekaligus membentuk, menolak juga menerima, mati dan hidup.


Dari Yang Satu itu..


Ide menjelajah tiap kehidupan dengan berbeda peranan juga bentuk. Menjelma sebagai intuisi, insting dan naluri. Kerumitan menjadi pakaian yang membalutnya sedemikian rupa. 


Sebab ide tersebut kita selalu berlari demi menggapainya. Dalam segala hal, dalam perjalanan hidup ini, ide adalah dasar yang perlu kita tangkap untuk mengerti lebih dalam. 


Ide adalah inti yang perlu kita miliki untuk memahami keutuhan yang membingungkan, dia juga penerang bagi kelam keterbatasan pikiran, hadirnya memperluas wawasan serta memperbaharui pandangan atas segala sesuatu.


Misterius kehadirannya, dari manakah ide berasal?

Ide terlampau bebas, baru saja hinggap kemudian pergi meninggalkan lupa. Sedetik saja berharga, kemudian dibuang. 


Dari mana ide berasal?

Generasi Perubahan

 Menjalani hari-hari ini membawa saya pada sebuah fenomena yang disajikan melalui media, tulisan-tulisan dan cerita di kalangan masyarakat umum tentang "generasi perubahan". Yaitu, generasi yang berubah dan merubah apa yang telah terjadi dan pernah dialami menjadi berbeda.


Di tiap generasi pasti akan ada cerita dan peristiwa yang terjadi tentunya dilakoni oleh orang-orang yang hadir pada masa tersebut. 


Nah, mendefinisikan generasi perubahan melalui beberapa hal yang saya sebutkan sebelumnya, sangat sering dikisahkan tentang, "apa yang tidak aku alami, akan 'kulakukan kepada generasi berikutnya, supaya mereka bisa merasakan yang tidak bisa aku alami dulu", tentunya konteks ini dalam lingkup kenangan indah dan kebahagiaan dari rasa disayangi atau diperhatikan. 


Kerap kali orang berbagi tentang hal-hal indah pada masa lalu yang mereka dambakan, namun, tidak mereka dapat, sehingga saat mereka ada di posisi sekarang mereka akan memberikan perhatian dan kenangan indah kepada generasi berikutnya.


Perhatian kepada anak dan memberikan kasih sayang kepada generasi berikut menjadi tren untuk menghentikan rasa "tidak diperhatikan" yang turun temurun dirasakan generasi-generasi hasil dari masa lalu ini.


Apakah sikap kita saat ini adalah hasil dari masa lalu?

Apakah kita yang merasa kurang bahagia akan memberikan rasa sakit yang sama kepada generasi berikutnya?


Melalui tren yang marak disajikan saat ini, kita memilih untuk menghentikan rasa kurang bahagia tersebut dan memilih untuk memberi kebahagiaan. Semoga apa yang baik bisa kita berikan dan keburukan sebisa mungkin tidak kita wariskan. 


Menjadi generasi perubahan sedang gencar dilakoni, semoga generasi berikut akan lebih baik.

Senin, 11 September 2017

Serpihan Kisah

Keping terakhir yang kuingat sebagai cuplikan,
Saat pertama tangan kita bertemu,
Kuingat mengapa hari itu sangat indah dan cerah,
Tak ada alasan untuk tidak bahagia, ungkapmu.
aku setuju, sebab bahagiaku adalah kamu.

Kamu, pelumpuh jiwa yang suka bercanda dengan realita,
Sangkamu aku adalah pujangga yang tidak terluka,
Lukaku menganga, bukan untuk menderita,
Kubiarkan luka untuk menanggung deritamu.

Bermula dengan semula luka untuk tanggungan derita,
Aku putus asa dibungkam waktu kala pergimu,
Dalam diam dan kalut, coba kujumpa cinta meski mimpi tak kunjung mempertemukan

Aku nelangsa,
Aku berduka,
bukan dalam derita
Hanya bercerita

Ku Lihat Kau

Ku lihat kau,
Sosok lemah menodong pisau tumpul,
Dikira pedang tajam

Ku amati dalam tegun,
Todongan ancam dalam getir akan celaka

Tidak dirasa iba, bukan juga benci
Miris,
Digerogoti gelap,
Kawanmu sisi itu?

Tidak ada lahir dalam suram,
Tak ada harap pekat di bawah naung cahaya

Sangkamu paham tentang kekelaman?
Buat apa pisau itu?
Untuk apa kuda-kuda menyerang itu?
Siapa kawanmu? Di manakah sengatmu?

Perhatikan saja pijak,
Jangan begitu ambisi untuk melumpuhkan

Perlahan,
Sebelum beranjak cobalah untuk tersadar dahulu

Sebelum terjang cobalah tidak buyar
Sadar! apa yang memabukanmu?

Sosok yang berdiri dalam ringkuk,
Tanpa pijak akan terhempas,
Mengancam tanpa perlindungan,
Mengerang dalam cekam suram dan rapuh,

Buat apa posisi itu?
Jangan berbangga,
Tidak aman tempatmu sekarang.

Ku lihat kau,
Sedang apa di situ?

Kemari dan sadarlah,
Tengok atasmu, cahaya begitu terang
Jangan butakan mata dengan dangkal pemahaman,
Tidak ada gelap dan suram

Semuanya terang,
Yang suram sisi sana,
Tapi bukan pijakmu,
Kau salah, kau keliru
Pijakmu remang-remang,
Bukan pekat gelap sebenarnya

Kemarilah,
Atau setidaknya bergeraklah ke sana,
Sisi kelam yang tidak bisa dipahami

Rabu, 09 Agustus 2017

Sebuah Catatan

Enam Simpul Awal
Dua Sosok
Dua Rintisan

Delapan Gebu Menyala
Nol Kesempatan Berpaling
Sembilan Awalan Mengikatsatukan Ruas Simpai

Dua Masa
Nol Harap Sesal
Satu Kebaikan Waktu
Tujuh Garis Pertanda Akhir

Salam malam,
Kabut tidak turun kala ini
Panas menyerang, mentari bukan dalangnya kali ini

Pintu tertutup
Tidurlah,
Kembali bermimpi,
Bangunlah
Lakukan sekali lagi, sedikit lagi
Selamat Pagi Pejuang.


Catatan Tatih Medan Pertempuran,
Kemungkinan Menangpun Menyerah dan Dikuasai Kesempatan Kalah,
Sang Prajurit Tumbang Menulis Surat
Kiranya Kabar Ini Tersampai.

Dengan segala harapan,
Berjuanglah, sedikit lagi
Segala pengorbanan akan mendapat ganjaran kelayakan

Kiranya hingga akhir

Jumat, 28 Juli 2017

Kisah Yang Seolah Terlupakan



Ada sebuah kisah,
Makhluk tua yang bernaung dalam gelap,
Menunggu waktu untuk beranjak,
Siang hari ia tertidur, malam hari ia akan keluar
Gua tempat ia menetap, kesepian adalah kawan

Ia tidak risau akan kesendirian
Ia tidak takut akan kehadiran
Tidak juga tertutup akan relasi dengan makhluk luar
Hanya keberadaannya saja memang sudah ada sebagaimana ia hadir, sukar diungkapkan, keunikan memenuhi dirinya dan seadanya ia.

Suatu hari seorang manusia datang mengunjungi kediamannya
Ia dikisahkan tentang persaudaraan, ia menyandingkan akan keeratan kasih antar makhluk

Sang buas terpesona oleh kisah tersebut
Si buas menjalin relasi,
Bertahun-tahun mereka berteman
Suatu ketika sang buas mengadakan kontrak dengan manusia
Mereka terikat, terjalin erat
Satu jiwa dan satu keberadaan
Keduanya menyatu

Hadir dalam rupa manusia
Dan manusia yang memiliki kebuasan dalam dirinya,
Dalam wujud manusia ia memperanakan banyak penerusnya,

Suatu hari seorang penerus murninya bangkit,
Dalam wujud manusia yang menyembunyikan buas dalam dirinya,
Siapa yang menyangka keterpikatan buas akan kasih tidak sepenuhnya mengekang ia,

Seorang musuh datang dan memukul sang penerus hingga terpental, lunglai ia dihempas secara tiba-tiba, bagai tak bernyawa dihajar berulang kali, ia terkapar
Tergeletak tak berdaya,

Dalam samar sadarnya,
Sang penerus terperanjat menatap musuh yang menghempaskannya,
Teman sebayanya, teman terkasihnya, yang selalu ia sanjung dan ia banggakan,
Penghianatan terjadi,

Dalam keadaan sedih, depresi dan remuk oleh kekalahan,
Penerus muda membangkitkan amarahnya, dalam hancur tubuh yang tidak bersisakan tenaga,
Percikan mercusuar bengis menggerakan sosok tersembunyi dalam keberadaannya, ia mengerang
Memancing benih buas dalam dirinya,

Sang buas bangkit dan menyerahkan seluruh kekuatannya,
Dengan memberikan tatapan tajam untuk melihat celah lemah,
Mewariskan energi gelap sepenuhnya kepada inang; sang penerus, yang sekarang
Buas sepenuhnya menyatu dalam kendali situasi
Tidak dijumpai gentar dan kekecewaan lagi pada hawa penerus,
Ia sepenuhnya melebur dalam kebuasan
 
Sang penerus berdiri dan memukul balik musuh
Ia menuai kemenangan, tengkuk musuh terinjak
Ia hempaskan keras sang pengkhianat tanpa mampu melawan,

Dalam kemarahannya yang mereda, penerus muda menyadari keberadaan sesuatu dalam dirinya,
Amarah besar yang menyendiri, diam, tersembunyi dan tidak keluar setiap saat,

Namun,
 
Sekali meluap, malapetaka besar ditimbulkan

Pada hari dewasanya, penerus muda membangkitkan banyak keturunan
Pada keturunan-keturunannya, benih buas tetap hadir dalam bilik diri
Pada setiap celah kekosongan jiwa generasi demi generasi,
 
Bisa setiap saat keluar, bisa setiap saat juga bersembunyi
Semua bergantung pada mercusuar jiwa, dinyalakan atau tidak

Buas tetaplah buas,
Dalam sendiri dan diamnya,
Ia tidak takut kesepian,
Tidak juga ia risaukan akan kehadiran kawan,
Buas tetaplah buas
Jangan lupakan kisah tua ini
Meski waktu terus menipu dalam dayanya,
Buas tetaplah buas,
Jangan lupakan kisah yang seolah terlupakan,
Buas tetaplah buas,
Ia tak pernah lupa

*Dibagikan kepada yang mengabaikannya, ia tidak diam


Jangan hadirkan bengis dalam percakapan,
Kebuasan bangkit dan membangun tahtanya
Ia tidak takut sendiri, tidak gentar akan apapun, namun, tidak juga risau oleh hadir seorang kawan,
Ketenangan dan damai dapat memikatnya; dalam pengabdian semoga ia temukan,
Semoga muara tempat pengabdian tidak berbuah pengkhianatan juga penghinaan, semoga

Teruntuk yang terdalam,
Serigala penyendiri, penyimpan buas dalam gua antara bilik hati,
Dalam mabuk anggur keegoisan.
 Diam sudah menjadi kawan, tak perlu risaukan, cukup berikan kepercayaan
Ia akan mengabdi dan menjadikannya tuan
semoga, semoga tidak terdapat keraguan.

Jumat, 14 Juli 2017

Ungkapan Kebodohan


Janganlah dendam dengan kebodohan yang sempat kujubahkan pada akal sehat,
Jangan memandang sinis atau nista yang senantiasa ditumpahkan
Apalah arti sebuah mimpi
Apalah daya sebuah ambisi
Untuk kesekian kali, aku terus merasa dungu
Untuk keberkian kali, aku kembali merasa sesat
Terima kasih untuk sekumpulan sajak acak yang tersebar, berhamburan, tumpah ruah memenuhi ruang pikiran
Akal sempit memang menjadi kalut yang sulit untuk diterjang

Jika mimpi bagai berkas cahaya
Malam ini udara dingin menjadi saksi
Mimpi itu cukup kuat untuk menyingkap kabut kegegabahan.



Saat menemukan kepingan puzzle akan keutuhan cerita dalam balut ambisi dan riuk hidup, aku menyadari banyak hal, walaupun tidak aku pungkiri bahwa dugaku masih pada terkaan yang sangatlah buta, tetap keras kepala menguasaiku.
Kisah luar biasa yang aku bersyukur diijinkan menjadi penikmat sekaligus pelakon yang diperbolehkan mengkritis, walau tidak sesuai alur.
Cerita ini tidak bisa aku kisahkan sepenuhnya, tapi bagian ingatan ini aku sisipkan dalam tulisan sebagai bentuk apresiasi atas ketakjubanku bagi alur hidup yang menarik.
Sekali lagi, aku menyadari kebodohanku dalam menyusun sajak dan kepingan acak akan keutuhan kisah hidup, kembali aku belajar bahwa keindahan hidup terletak pada kerumitannya yang sukar dipahami dengan penuh, dan hanya menyajikan pecahan gambar untuk dikumpulkan menjadi makna penuh.