Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 September 2025

Penghianat Cinta

 Langit kita runtuh

Kenangan kita pupus

Kau pilih hancurkan semesta cinta demi puaskan hati


Kini pilu selalu menunggu

Hadirkan ragu untuk maju

Hati tak kan pernah lupa

Rasa tak pernah sama

Tidak seperti dulu

Tidak dengan kemanisan lalu


Kenangan berkeping melebur dalam penghianatan

Buat apa tanamkan seri bila duri yang kau sirami tiap hari

Seperti kau bukan milikku lagi

Kita seperti tak pernah satu

Satunya terbagi seolah kau siap pergi

Tanpa Cinta

Rindu Tempat Lain

 Semarak putih menyelimuti daratan,

Sebelum memudar terusir rombongan kasar menghabisi hari


Menukar waktu demi sejenak beristirahat

Mencoba memaknai fana pelepas dahaga

Mengapa merindu?


Kala diri dipenuhi sesak udara dunia,

Mengapa ingin pergi padahal tak pasti akan kemana?


Beranjak saja jika kamu tahu arah,

Mengapa tersiksa padahal kita senantiasa bersama

Lupa Diri

 Yang berpeluh memaksa diri

Meringis sambil tersenyum coba berseri


Kamu yang berlari menerjang sengat terik mentari, tak peduli meski akan mati


Kamu lupakan diri hingga tidak dikenali,

Dalam senyapnya perasaan yang kau padamkan, kau menjerit

Mengapa begitu menyiksa diri?


Tatap matamu menerawang,

Nun jauh di seberang sana

Kau hanya ingin menghilang, meski dipenuhi bimbang

Menyalahi diri, meski masih peduli


Mencoba mati, demi lupakan hidup

Menjalani pilu, sebab merindu

Nyanyian Seorang Diri

 Nyalakan besar amukan rasamu, yang telah kau khianati, tercampak di penjara terdalam hati..


Dalam getir nyanyian rindunya ia tetap bersuara, merangkai nada dalam getar putus asa..

Tertawa sambil melukis pedih, sebab yang lampau tak lagi hadir, semua tinggal rasa yang masih mengingat


Berharap dalam sadar ketidakpastian,

Bermimpi dalam ilusi yang tiada bertepi, sengaja mengunci hati agar yang senantiasa berseri segera mati, harapmu begitu?


Tapi mungkinkah mati?

Bagi yang tak pernah pergi bagaimana tidak bisa dirasa lagi?

Bagi yang tidak beranjak, bagaimana kau rasa tak dengar ketika ia berteriak?


Menyerahlah, kamu kalah

Kala sendu menyesak didadamu, kala hati berontak mengalahkan akal, mulutmu hanya bisa bernyanyi

Menarik mimpi dari yang telah pergi,

Bernyanyi dalam sepi menghibur diri..


Kau tak bisa berdiri diselubungi duri,

Kau tak mampu berjuang saat diri telah tumbang..


(Menghianati Diri)

Sabtu, 24 Mei 2025

Salah Rasamu

 Kelirunya kamu yang mencoba, karena menduga penasaran adalah kebenaran untuk berjalan maju, namun, mengapa harus ke arah itu?


Tersesatlah kamu, berpikir dalam benak bahwa kamu dibenarkan melakukan apapun tanpa pertimbangan batin dalam hati kecilmu, mengapa cahaya semakin meredup?


Tersandunglah kamu berjalan menurut kesukaan hatimu, tapi mencampakan bahagia sejatimu, apa gunanya rasa bebas jika menjerat diri dalam hawa nafsu?


Salah rasamu, menuntun diri menekuni petaka, meresapi kedagingan dalam harapan berhadiah kemurnian, kiramu keutamaan mengedepankan hasrat tubuh?

Selasa, 20 Mei 2025

Hujan

 Seketika mencekam,

Angin ribut ke sana kemari mengacaukan tenang ranting pepohonan, semua suara tertutup racau tumbuhan tentang sesuatu yang datang..


Debu mengamuk diusik pembuat onar, menyerbu ke permukaan tanah, membisikan kedatangan hujan pada daratan yang kehausan

Kusendiri

 Saat 'ku sendiri, kutemukan ruang hampa dalam diri.

Kutelusuri tiap lorong lika-liku perasaanku,


Aku terkesiap,

Sendiri dan hampa yang menghiasi ruangku, cuma ada abu-abu yang menjadi penuntun jalan kisahku.

Terlebih

 Ketamakan mengejar suka menenangkan diri, dalam capai hasrat tidak semua bisa, tapi diri sampai


Seringai puas dusta, meyakinkan

Melumpuhkan tenang kesadaran sesama adalah debar rasa, pelepas dahaga capaian


Karena iblis,

Karena hasutanya


Karena ada satu itu, jadi alasan dan bela, juga pelarian salah yang terjadi

alam kesadaran dikhianati demi bela diri.


Akhirnya..

Yang berakal ini lebih menakutkan.

Buah Kelakuan

 Di pagi, di siang

Dikala waktu menjadi penyembuh

Bagimu yang sesat perjalanan

Bagimu yang sesat berjalan

Bagimu yang sesat jalan

Bagi sesat


Biar pengampunan tertinggi menghapus duka dan sesalmu

Sesal akan kemarin, menyesal esok harus dijumpai


Untuk yang telah kau buat

Buah dari kelakukan

Kehadiran

 Nyanyian awali pagi

Mengundang ragu mentari tampakan diri

Penyintas di antara yang sisa

Menggemakan lagu berulang kali,

Apakah suka atau duka?


Tak terasa embun jatuh basahi tanah

Tanah kering yang dahulu lembab

Sebisanya ia hadir mengusap luka

Perih hasil dari ego


Tanah kering itu kini basah

Meski hanya permukaan saja


Yang mengering usahlah coba seperti dulu

Kini ia 'kan kering kala tengah hari datang


Ah,

Hutanku..

Apa dayaku,

Hutanku..

Kini menjadi lapangan luas


(Kehadiran penyintas)

Kilas Diri

 Kutau jalan ini tak diketahui

Aku menduga jalan yang tak terduga

Indahnya hidup berjalan di petualangan kedewasaan

Waktu menipu demi menghibur

Sesekali menoleh,

Pujilah Yang Maha menemani

Betapa baik kawan seperjalanan


Ternyata,

Tak pernah sendiri meskipun terasa sepi

Tak Perlu

 Perlukah kuikat simpul senyum demi tampakkan kepada semua bahwa indah hidupku?

Usah risau urusan mereka tuk beri nilai bahagiaku


Juangku milikku

Seriku adalah hakku

Perlukah kuberi ruang bagi yang sekedar saja?

Bagi yang gemarnya menertawakan derita

Yang kesukaannya menonton keluh kesah hidup orang


Tak perlu

Pembawa Garis

 Hevtaseam,

Kau adalah pengikat

Penyatu antara dua kutub berlawanan, dalam kehidupan, pemikiran dan jalan impian


Lihatlah, langkahmu diawali dengan tertatih

Lambat dan belum kokoh


Tapi, lihatlah kedua mata itu

Mataku, mata garis kita

Lihat ambisi itu

Menggebu semangat terjang rintangan hidup


Lambat kata orang, tak mengapa..

Tak apa lemah ucap mereka..


Kamu selalu kuat

Kamu selalu gigih

Kamu selalu penuh tekad


Pembawa garisku,

Kalanya nanti kamu berdiri

Pijakmu tak tergoyahkan

Mimpimu membubung hingga ke langit

Bagai rasi bintang dirangkai semua pemikiran cemerlangmu


Kamu selalu kuat

Kamu selalu gigih

Kamu selalu penuh tekad


Kamu, sang pembawa garis


-Untuk Anak Terkasih

Tak Boleh Berhenti

 Kuandaikan diriku berseri

Betapa indahnya hari

Kudambakan lepas tawaku

Betapa bahagia hati


Kuimpikan atas kemenanganku

Betapa megah rasa bangga

Kuharapkan perkasa pendirianku

Dalam hidup yang terombang ambing,

Dalam lautan gejolak menerpa diri,

Kudapati aku tak mampu berlari

Berjalanpun tertatih,

Jatuh, tapi tak diijinkan berhenti

'Ku harus beranjak pergi,

Meski diri harus terus dipaksa, langkah terseok dan lamban, kutak boleh berhenti, kutak biarkan semangatku mati.

Kemenanganku

 Kemenanganku adalah tawa yang lepas,

Senyum mekar,

Wajah berseri,

Gagah sekali kurasa diri ini


Kemenanganku adalah semua terjadi

Baik inginku juga butuhku

Yang tak kubutuh juga terjadi


Kemenanganku senantiasa kusesali

Kala aku jatuh setelah melonjak tinggi,

Tinggi hingga aku terlena


Kemenanganku

Kehancuranku..

Sabtu, 17 Mei 2025

Renunganku

 Kutermenung dalam senyapku

Sendiri aku mengutuk,

Menyesal,

Menyerapah,

Murka,

Menangis,

Mengais sisa harap,


Kutermenung menatap dalam diri

Cerminan hati jelmaan hidupku

Dalam labuhan harap yang dahulu telah kukhianati, kembali kudiam menatap


Kutermenung melihat aku,

Aku merenung, barangkali ini tak selamanya terjadi

Barangkali ini masa pecundangku,

Pembuangan,

Penghukuman,

Atas segala pilihan salah

Membawaku kembali termenung.

Pagi

 Hangat cahaya fajar menyapa harap

Di kala kita masih tertatih

Dalam murka jiwa terlelap semalaman, berselimut kabut kalut, di ambang mimpi buruk.


Kita berharap-harap,

Kita mengerjap-ngerjap bersembunyi senyum mengejar esok

Kala kita terlelap sejenak melepas sedikit lelah,

Mengubur peluh dalam sukma yang tak kunjung bertenaga, berlari seperti saban dahulu


Kita masih berharap pada fajar yang tersenyum

Rengkuh

 Dalam peraduan tak tentu arah bersemayam duka bercampur suka. Ada tawa dalam derita, juga hadir benci dalam mencinta. Begitu dunia adanya. Beginilah kita ada semestinya, antara ada dan menjelma; semakin menjadi yang kita yakini atau justru ke arah yang dahulu kita benci.


Biar kurengkuh segala sesal dan ragu, menghadirkan hangat dalam menghibur jiwamu. Bagi ragamu yang enggan letih menghadapi hari. Bagimu yang tertatih hampir mati mengejar hidup esok. Biar kurengkuh segala peluh itu, sebab kamu dan aku adalah sama. Kurengkuh lukaku sendiri.

Kembali

 Tempat teduh yang mengundang rindu saat jauh

Kala hati gundah di pengasingan

Satu kata dan rasa yg kita suka bernaung dalam jiwa

Sebutkan cinta perekat antara dua jadi satu

Satu kemudian dua

Dua dan menjadi banyak bentuk

Jamak rasa dalam satu jelmaan


Kemudian kamu 'kan sakit

Amarah kan mengisi hatimu

Kala engkau jenuh dengan dongkol diri

Saat itu kau kan kembali merindukanku

Kembali mencintai,

Kembali, kamu akan mencintaiku dari awal kembali.


(Ngomel sembari ngemil, Desember 2021)