Tampilkan postingan dengan label Karya Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Tulisan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Mei 2025

Generasi Perubahan

 Menjalani hari-hari ini membawa saya pada sebuah fenomena yang disajikan melalui media, tulisan-tulisan dan cerita di kalangan masyarakat umum tentang "generasi perubahan". Yaitu, generasi yang berubah dan merubah apa yang telah terjadi dan pernah dialami menjadi berbeda.


Di tiap generasi pasti akan ada cerita dan peristiwa yang terjadi tentunya dilakoni oleh orang-orang yang hadir pada masa tersebut. 


Nah, mendefinisikan generasi perubahan melalui beberapa hal yang saya sebutkan sebelumnya, sangat sering dikisahkan tentang, "apa yang tidak aku alami, akan 'kulakukan kepada generasi berikutnya, supaya mereka bisa merasakan yang tidak bisa aku alami dulu", tentunya konteks ini dalam lingkup kenangan indah dan kebahagiaan dari rasa disayangi atau diperhatikan. 


Kerap kali orang berbagi tentang hal-hal indah pada masa lalu yang mereka dambakan, namun, tidak mereka dapat, sehingga saat mereka ada di posisi sekarang mereka akan memberikan perhatian dan kenangan indah kepada generasi berikutnya.


Perhatian kepada anak dan memberikan kasih sayang kepada generasi berikut menjadi tren untuk menghentikan rasa "tidak diperhatikan" yang turun temurun dirasakan generasi-generasi hasil dari masa lalu ini.


Apakah sikap kita saat ini adalah hasil dari masa lalu?

Apakah kita yang merasa kurang bahagia akan memberikan rasa sakit yang sama kepada generasi berikutnya?


Melalui tren yang marak disajikan saat ini, kita memilih untuk menghentikan rasa kurang bahagia tersebut dan memilih untuk memberi kebahagiaan. Semoga apa yang baik bisa kita berikan dan keburukan sebisa mungkin tidak kita wariskan. 


Menjadi generasi perubahan sedang gencar dilakoni, semoga generasi berikut akan lebih baik.

Kamis, 02 Mei 2019

Surat Cinta



Tak ada  kesunyian yang lebih pilu, jika disandingkan dengan bungkamku saat dipengaruhi inginmu.
Blackberryku berbunyi. Segera kuperiksa, terdapat pesan melalui BBM olehnya.

Dios : Lagi sibuk?
Dios : Bisa ke pelabuhan ga?
Dios : Ping!
Dios : Ping!
Nadia : Iye, bawel ah.
Nadia : Kenapa lagi?
Dios : Nanti dikasih tau, ini mau cerita.

            Tak ada sunyi yang lebih pilu dari ini. Tak ada perintah yang lebih dibenci selain ini. Tiap kali kau jatuh hati, kisah itu diutarakan padaku. Tiap masa duka kau dikhianati cinta, berita itu juga yang aku terima.

“Kamu yang pertama tahu tentang ini,” Mulainya saat kutelah tiba di pelabuhan, tempat kami biasa duduk menikmati udara malam atau sekedar bertemu teman-teman sekitaran kota ini. Dios melengos, seolah melepaskan sekaligus mencoba merelakan hal terbesar dalam hidupnya. “Kami udah putus, Nad”.

Aku sangat tahu tentang ini, dia menyebutkan akhir rajut asmaranya dengan Dela, yang baru sebulan ini menjalin hubungan dengannya. Sejak awal ketertarikannya pada Dela pun, aku tahu. Cuma aku yang bisa diajak bicara dan pendengar yang baik, selalu begitulah ungkapnya. Tak heran, mungkin hampir semua hal tentang Dios sangat aku kenal. Kepribadiannya, kelemahannya dan.. kehidupan asmaranya.

            Malam itu ia mengisahkan tentang perpisahannya dengan Dela siang tadi. Aku terdiam dan mendengarkan semua ocehannya, seperti biasa. Seperti kisah ia sebelumnya yang kandas hubungan dengan Tita, Mona, Tika, Devi, Dina, Ruth, Dilla, Melisa, Meli, Lisa, Erma, dan Jeni.. juga.. ada beberapa nama yang aku sudah lupa siapa saja.

Selesai mencurahkan kisahnya ia menoleh kepadaku seperti pada saat-saat patah hatinya yang biasa.
“Makasih ya udah datang, maaf ngerepotin terus, Nad.” Ia tersenyum tipis padaku. Kubalas dengan anggukan kecil, “Yuk ah, pulang.. Udah jam segini” Ajakku padanya agar tak berlama-lama diterpa angin malam ini, suasana yang cukup menggetarkan badan karena angin malam yang terus menerus menerpa dan mengusik dengan hawa sendunya.

            Tak ada sendu yang lebih dalam dari ini, selain menjadi kawanmu pada patah hati, kemudian kita dipertontonkan malam pada dunia, diusik angin sepi yang mencibir dan.. yang mengatur cinta cekikikan melihat momentum lumrah baginya. Tepat seperti ini. Jika boleh kumiliki kekuatan mengalahkan dewa, yang pertama akan kuhajar adalah Cupid, sebab ia sangat merajalela, sesukanya saja menabur benih cinta tanpa mau memudahkannya. Yah, apalah .. itu hanya sebuah mitologi.

            Pertengahan malam ini aku habiskan sebentar untuk sekedar menulis pada blog pribadiku, sebuah tempat yang sudah lama aku kelola untuk mencurahkan kesah juga ide-ide kecilku. Selesai menyampaikan puisiku malam ini, aku menutup laptop dan pergi tidur. Kuharap tak hujan dan harapku esok hari yang cerah, cukup cerah untuk menyegarkan jiwa yang disekap sendu.
*
Semalam mimpiku menari bersama bintang,
Semalam aku berangan menjelajahi angkasa.
Bercengkrama dengan angin-angin bahagia yang selalu tertawa di atas samudera dan daratan raya.
Inginku bersama alam menyuarakan catatan-catatan peradaban.
Ah, semalam.. begitu tak karuan aku menaruh angan,
Nyatanya semalam aku hanya berada pada sebuah sampan.
Sampan angan. Sampan impian.
Diterlantar. Terombang ambing dalam topan perasaan.
Perasaan yang terpendam.
Semalam aku bermimpi,
Bersama bintang. Semoga bintang bisa hilangkan duka, tentang rasa lama yang selalu tersimpan.

           

Sabtu, 30 Juni 2018

Kabar

“Akulah warna, akulah sang beda. Akulah rasa berbeda yang enggan kau cicipi”
-Kutipan oleh Adela


            Menunggu. Suatu hal menjemukan sekaligus membunuh, rasanya bisa membunuh karena penasaran itu. Itu adalah keanehan yang sejak sore tadi gadis ini rasakan. Adela, sang warna berbeda. Setidaknya begitulah pengakuannya pada orang-orang yang bertanya tentangnya.

Apa yang ia tunggu?

“Menunggu seseorang untuk kembali?” Ia membatin.
“Omong kosong, emangnya dia pernah datang dan singgah? Apanya yang kembali?” Batin lainnya membantah sengit tanpa simpati atasnya yang sejak tadi telah menjadi korban ‘menunggu’.
“Coba sebentar lagi, apa ruginya?” Kembali ia membatin.
“Bodoh. Sungguh bodoh penantian ini, Adela!” Perdebatan dalam dirinya mulai terjadi.

            Apakah itu rasa yang menggelisahkannya? Kabar apa yang ingin ia jumpai. Hal apa yang begitu berharga untuk dinantikan hingga batinpun protes dengan hal menunggu ini?

            Tertawa.
Semua bermula dari canda, gurau dan rasa hangat jalinan persahabatan keduanya. Terlalu dekat, rasa-rasanya begitu. Begitu hangat juga komunikasi keduanya, rasa-rasanya sih begitu. Terlalu dekat, terlalu hangat. Apapun yang dibicarakan pasti akan memekarkan tawa bagi keduanya, terlebih lagi si aku ini, Adela..

Penantian malam ini begitu panjang, Adela menghela naafasnya beberapa kali. Menyentuh dengan ragu, namun penuh harap pada layar smartphone miliknya akan menampilkan pesan dari seorang yang jauh di sana.

Hahh...

“Ini semua karena malam itu..” batinnya mengenang kembali.
“Terlalu ceroboh, terlalu mudah untuk terbawa suasana. B-o-d-o-h!” Pekik batinnya di sisi lain.
Ada apa dengan segala perdebatan batin ini? Mengapa ada dua sisi dalam dirinya. Satu berharap, satunya mematahkan pengharapan tersebut.

            Malam itu memang begitu sunyi sekaligus menenangkan untuknya..

Percakapan terjadi pada sebuah meja sederhana. Di bawah naungan pohon rindang itu, dan jangan lupakan peran warung keparat sederhana yang memfasilitasi suasana tersebut.
Tidak bisa diajak kompromi kalau sudah menyangkut soal perut.

“Mau makan dulu engga?” Tawar sosok rupawan—setidaknya begitulah sudut pandang Adela, lelaki yang tidak ia sadari telah merebut hatinya. Entah sengaja, maupun tidak. Perasaan seperti ini begitu misterius.

“Boleh tuh..” dengan segera diiyakan oleh Adela, sebab ia sendiri memang merasa sangat lapar kala itu.

“Pesan apa?” Tanya Adela pada lelaki di hadapannya.

“Yang biasa aja” Jawabnya singkat karena masih perlu mengecek hpnya.

“Yang biasanya emang apaan?, Hendri?” Adela menaikan nada suaranya.

“Ayam bakar, sambal dibanyakin. Pakai nasi jangan lupa” Balas Hendri sekilas memberikan senyum tipis pada Adela.

“Sibuk amat, pak..”

“Hmm?..” Ia nampak menampilkan senyum tipis pada bibirnya, “engga, ini ada yang harus dibalas dulu..” Lanjutnya.

“Iyadeh yang sibuk, tapi ngaku engga sibuk.. lagian asyik benar rupanya dengan hp”

“Engga, nih udah kan?” Hendri menaruh kembali hpnya ke dalam tas.
            Sementara menunggu pesanan mereka berbincang-bincang sedikit menyangkut perkuliahan dan kegiatan fakultas yang akan dilaksanakan bulan depan.

“Eh,..” Adela tiba-tiba teringat sesuatu, “Udah nonton film Jejak Langkah belum?”

“Belum” Jawab Hendri sambil mengerutkan dahi.

“Yesss, sama dong.. temani nonton yuk, masa nonton film begini sendiri”

“Ya, booleh aja..” Jawaban lelaki tersebut terdengar ragu.

“beneran yak? Yaudah, tentukan waktu” Telunjuk Adela menuding Hendri yang terlihat masih menimbang-nimbang. “Minggu depan gimana?” Lanjut gadis itu lagi..

“Waaduh, liat ntar yak, ga janjii juga” Balas Hendri sambil coba menampilkan tawa di wajahnya.

“Yahh, sibuk lu yak?”

“Engga sih, tapi ga tau juga. Liat nanti ya”

“Yahh, kalo ga bisa tinggal bilang aja sih.. jangan kasih gue harapan palsu”

“Apaan sih, ga ada hubungannya sama nonton film..”

            Adela menampar pelan kedua pipinya untuk tersadar dan tidak kembali mengingat tentang bagaimana hal tersebut telah membawanya pada suasana malam ini. Suasana dimana ia sedang menanti dengan penuh harap agar dihubungi dan diberikan kepastian oleh Hendri, apakah akan jadi pergi nonton atau tidak.

            Bukankah sebaiknya memang dipersingkat saja waktu ini. Mengapa jalannya begitu lambat dan seolah semesta bekerja sama satu sama lain, bersekongkol untuk menjahilinya malam ini. Berulang kali ia melirik jam untuk memastikan bahwa waktunya dekat atau tidak datangnya kepastian itu.

“Biasanya kalo nonton bareng emang jam 9 sih, tunggu aja” Batinnya, setelah memastikan waktu menunjukan pukul 20:00.

“Apa yang bisa diharapkan dalam waktu satu jam sih? Emang yakin jadi? Palingan ada acara lain dia..” Batin yang satu ini memang sebaiknya diumpat saja. Walau begitu, cukup ampuh juga untuk membuat Adela gelisah dan merasa ragu dengan janji tempo hari. Sebentar, janji? Janji apa? Bukannya memang sudah ia sampaikan kalau ia tidak bisa janji?
Begitu berat menunggu kabar dari yang diujung sana. Ingin menanyakan kepastiannya tapi entah mengapa terasa begitu berat. Gengsi lebih tepatnya. Gengsi karena apa? Tidak jelas!

Waktu telah berlalu tiga puluh menit, dalam siksaan tunggu ini, kabar itu belum juga tiba.

            Sebuah notifikasi muncul pada sudut atas layar smartphone miliknya. Ah, nama itu.. nama yang ditunggu-tunggu, tetapi notifikasi itu, bukan notifikasi yang diharapkan. Itu adalah pemberitahuan tentang seorang yang sedang live salah satu media sosial instagram.

Apa yang ia lakukan dengan membaginya melalui sebuah siaran langsung di instagram?
Dengan rasa penasaran ia mengetuk notifikasi tersebut. Terlihatlah sosok yang ditunggu-tunggu kabarnya sejak tadi, namun, ia tidak sendiri. Terlihat ada seorang yang bersamanya, keduanya sedang duduk berdekatan dan mengunyah sesuatu, mungkin makanan ringan. Terlihat latar tempat keduanya adalah sebuah tempat pemutaran film. Ah.. apa sebenarnya yang mereka lakukan..

            Adela menutup siaran langsung tersebut, kemudian merebahkan dirinya pada sofa. Ia gelisah, berlari kecil menuju kamarnya. Memasrahkan diri pada kasur yang kini telah ia tubruk.
Ia merasa sesak pada dadanya..
Ada yang terluka,
Ada yang sakit, namun, tidak berdarah. Di dalam sana.
Di sisi lain ia merasa lega. Kabar yang ia nantikan tiba juga walau dengan tidak seperti yang ia harapkan bentuknya.
“Ia sudah bersama yang lain”.

            Bersama dengan sunyinya perasaan Adela malam itu, sebuah cuplikan tanpa alasan jelas terkenang dan terputar dalam pikirannya. Ia menyukai bagaimana Hendri, lelaki itu berbicara. Menemaninya kala bosan, mengobrol sesekali dengannya saat senggang di kampus. Makan bersama di kantin. Momentum-momentum kecil yang biasa saja seharusnya sudah berhasil menjebaknya untuk menaruh hati pada Hendri. Tidak mau ia akui, tetapi hatinya berkata lain. Setelah melihat hal yang tadi, pada siaran langsung itu.. ia baru menyadari bahwa keduanya tengah dekat—Hendri dan gadis itu, iya.. dia itu, mengapa selama ini tidak menyadarinya. Mengapa terlanjur ia jatuh hati pada orang yang telah melepaskan hatinya bagi yang lain.

Tak terasa air matanya mengalir, ia sesenggukan. Meraih handphone miliknya untuk berselancar mencari informasi terkini keduanya, berharap ada petunjuk. Kabar kembali ia dapat.
“Mereka sudah sepasang kekasih sejak seminggu yang lalu..”
Batinnya menggemakan kabar tersebut tanpa mengerti sakit yang ia derita.


Selesai.

Rabu, 04 Oktober 2017

Keping

            Mereka sepasang kekasih. Joni dan Rea. Bertemu saat di bangku SMP, berkenalan, berteman dekat, sangat akrab. Hingga SMA mereka tetap memilih sekolah yang sama untuk menuntut ilmu. Lama memendam rasa yang dulu disebut labil—Cinta Monyet, orang bilang, semester awal kelas sepuluh, pada Jumat siang, jam istirahat selesai kerja bakti bersama, Joni mengirimkan pesan kepada ponsel Rea.

“Nanti sama-sama ke kantin ya, aku mau ngomong sesuatu” Singkat dan ampuh membuat Rea bertanya-tanya diiringi perasaan gugup yang aneh karena topik ‘sesuatu’ yang Joni bukakan akan menjadi hal perbincangan nanti. Tidak biasanya seperti itu. Joni selalu terang-terangan tentang apapun yang mau diceritakan ataupun didiskusikan bersama Rea. Tidak kali ini, aneh dan hawanya berbeda. Ada letupan sekaligus girang tak tertahan yang dibelenggu penasaran aneh. Jantung Rea berdetak kencang saat berjalan untuk menemui Joni.

“Aku suka sama kamu, sejak SMP, maaf kalau harus bilang sekarang..” Rea membeku dengan pernyataan Joni yang tiba-tiba dan tanpa basa-basi saat mereka bertemu di meja kantin favorite keduanya.

Dalam beku dan hening, Rea terus bertanya-tanya, tubuhnya kaku, namun, pada saat yang bersamaan ia merasa sedang melesat bebas, tak tahu bagaimana bentuknya, yang pasti ia merasa sangat ringan, hanya dalam batinnya. Tubuhnya diam. Hening tercipta, keduanya beku, Joni sibuk menggosok-gosokan kedua telapak tangannya, seolah ia tengah diserang dingin kutub utara, Rea terdiam, tubuhnya tak bergerak, hanya bola matanya saja yang gelisah dan memandang ke sana kemari.
“Be-beneran?” Rea mencoba merespon.
“Aku serius, maaf kalau harus begini..” Joni gelagapan dan terlihat ekspresi gugup serta ketakutan di raut wajahnya. “Tadinya aku pikir untuk tidak menyampaikan ini, tapi, aku engga bisa, aku berharap walaupun tidak jawabmu, kita jangan saling menjauh akhirnya..” Joni berharap dan berkata-kata sekenanya saja. Rea membisu dan batinnya gelisah sekaligus gembira yang bergejolak. Perasaan aneh macam apa ini?

            Beberapa kali Rea menghembuskan nafasnya. Dia tetap bergeming. Ia menegakan badannya dan mencoba menatap mata Joni yang tengah gugup dan tidak berhenti menggosok-gosokan kedua telapak tangannya.

            “Sebenarnya..” Rea bersuara. “Aku juga suka sama kamu sejak awal, tapi.. aku takut aku salah sangka dengan perasaanku” Joni membeku dan terus menyimak jawaban Rea.
            “Aku mau jadi pacarmu” Pungkas Rea akhirnya.

++

Mereka sepasang kekasih sejak SMA yang sekarang sudah bersama duduk di bangku kuliah. Mereka beda jurusan saat SMA, namun, satu jurusan dan prodi saat ini di sebuah universitas swasta ternama. Mereka sepasang kekasih yang menulis kisah asmara pada tiap lembar hidup masing-masing, lembaran yang terpisah, namun, sepakat untuk menulis cerita yang sama.

Joni dan Rea.


Senin, 31 Juli 2017

Untuk Seorang Asing

 (Teruntuk yang tidak dikenal)

            Dia terus mencari. Tidak tahu apa yang ia cari. Secangkir kopi. Seteguk lembut caffeine kala suntuk menguasainya. Senyata aroma kopi yang dihirup. Sekuat ilusi pikat kenikmatan penggila hidup. Serumit itulah perasaan dan pencarian yang ia lakukan.

“Diana..” Nama itu disebutkan oleh seseorang pada sisi jalan sana.

Gadis itu segera menoleh, dengan ekspresi datar, butuh satu detik kira-kira hingga ia mulai melukiskan senyum pada wajahnya, memperlihatkan lekuk bibir yang mempertontonkan sedikit deretan gigi. Matanya kembali mengarah pada kertas yang terhampar di depannya, di atas meja. Pinggir jalan ini, sebuah meja dan kursi tempat mengusir suntuk, tempat mengarungi banyak petunjuk akan sebuah pencarian. Diana memilih tempat ini, sudah lama ia menghabiskan banyak waktu bersama tempat tongkrongan pinggir jalan ini.

“Udah dari tadi di sini?” Tanya seseorang yang mendekatinya dan mengambil posisi duduk di samping Diana.

“Iya..” Balas Diana seadanya. Matanya dan fokusnya tetap pada selembar kertas di hadapannya. Pada tangan kanannya ia menjentik-jentikan sebuah pulpen dan membuatnya bergoyang ke depan dan belakang, seolah ditarik-ulur angin. Pulpen terus dibuat menari, matanya tetap pada kertas putih polos di hadapannya. Sesekali ia mendekatkan pulpen pada tangannya pada kertas tersebut, seperti akan menuliskan sesuatu, namun, dalam sekejap juga ia diserang ragu, kemudian memilih untuk tidak menaruh tinta tulisan pada kertas polos di hadapannya kini.

“Hey..” Seseorang di sampingnya menggerakan tangan di depan wajah Diana untuk mengalihkan fokusnya. “Aku juga di sini lhoo..”

Diana melirik sejenak dengan bola matanya ke arah sosok di sampingnya.

“Pernah kehilangan sesuatu?”

“Hah?” Dengan raut wajah kebingungan sosok di sampingnya kini tampak berpikir. “Hmm.. pernah, kehilangan apa dulu ini?”

“Kehilangan sesuatu yang tidak pernah kamu miliki.. bahkan yang tidak kamu ketahui mungkin..”

“Aneh..”

“Iya, aneh.. hmm, lupain aja..” Diana menghela nafas.

“Pencarian, gimana bisa nyari kalau engga tahu apa yang dicari..” Sambung sosok tersebut.
Sudah tidak asing pertanyaan-pertanyaan aneh selalu Diana hadirkan saat-saat seperti ini. Baginya hidup adalah pertanyaan, yang perlu ditanyakan terus-menerus hingga akhir. Entah, kapanpun akhir tersebut.

“Pencarian. Kamu sebenarnya mencari sesuatu dalam hidupmu, yang kamu sendiri tidak tahu apa itu, tetapi kamu tahu itu berharga dan kamu merindukannya dengan sangat, walaupun kamu sendiri belum pernah memilikinya..” Diana menjelaskan.

Angin berhembus, menghempaskan dedaunan kering di pinggir jalan raya itu.
Di bawah naungan pepohonan rindang dan pada sebuah bangku dan meja tempat teduh itu.
Dua sejoli bercakap-cakap hal-hal yang aneh,
Menceritakan banyak pertanyaan yang tidak terjawab, semakin ditanya semakin rumit untuk dipahami.

“Mungkin batas kita hanya untuk merindukan saja, bukan untuk mendapatkan..” Balas sosok tersebut.

“Atau, kita akan mengerti dan tahu, saat kita sudah mendapatkannya..”

“Seperti?”

“Entahlah..” Diana menggeleng kecil, meletakan pulpen di atas meja dan kembali menghela nafas.

“Seperti mencari seseorang yang tidak dikenal namun dirindukan atau membuat kelakuan bodoh, seperti menulis surat cinta buat seseorang yang tidak dikenal, bahkan belum pernah dijumpai..” Dengan senyum tipis sosok tersebut menatap Diana.

“Mungkin..” Diana membalas tatapan tersebut.

“Kamu kebanyakan minum kopi kayaknya, aku pernah baca kalau kebanyakan minum kopi bisa buat pikiran kacau..” Sosok tersebut terkekeh, sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan meletakannya di atas meja.

“Air putih?” Diana bertanya.

“Biar engga selalu ngerasain yang pahit-pahit..” Balasnya.

“Aku engga kebanyakan minum kopi, segala sesuatu yang berlebihan pastinya akan tidak baik kan?” 

Diana mengetuk pelan dengan jarinya pada permukaan meja.

“Minum aja, kamu kelihatannya kecapekan..” Sosok itu mendekatkan sebotol air mineral kepada Diana. Ia hanya merespon dengan snyum tipis dan mata yang terus menerawang kosong ke depan.

Lagi-lagi, pepohonan menggoyangkan ranting-ranting kecilnya dan dedaunan kering menari diusik angin siang ini.

Terjadi keheningan sejenak. Waktu seakan berhenti, hanya terdengar ketukan kecil dan suara halus dari permukaan meja yang ada di hadapan Diana dan ‘teman’nya.

“Aku seperti sedang mencari sesuatu yang tidak aku ketahui..” Diana memecah keheningan sejenak dengan suara yang lembut, hampir tidak terdengar karena hembusan angin.

“Kadang pencarian tidak berhasil kalau sendirian..”

“Maksudnya?”

“Kita butuh teman atau rekan, orang yang punya tujuan sama dan mengenalmu, ini seperti mencari sebuah harta karun yang sama-sama tidak diketahui dalam petualangan, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu menemukan harta karun rahasia tersebut..”
Sosok tersebut menarik nafas dan melepaskannya dengan ekspresi seolah baru saja terbebas dari hal yang mengekang. Ia terkekeh kecil.

“Kamu butuh teman” Sambungnya.

Diana kembali meraih pulpen yang ia lepaskan tadi.

“Kalau begitu aku akan menuliskan surat kepada temanku itu, untuk kami bersama menemukan apa yang ingin kami cari, sesuatu yang tidak kami ketahui bahkan yang tidak pernah kami miliki..” Diana menghentikan tangannya untuk menulis.

“Rekan gila dalam pencarian misterius..”

“Dengan apa harus kusebut dia dalam suratku?”

“Tuliskan saja apapun itu.., sampaikan kepadanya tentang pencarianmu, semoga dan semoga saja ia mengerti” Ungkap sosok tersebut.

“Teman? Atau rekan?”

“Apa bedanya? Kalau ia bisa menjadi apa saja, yang penting ia bisa menjadi kru sepetualanganmu dan bisa mengerti mimpi yang kamu rindukan, dia bisa jadi apa saja dan siapa saja”

“Teman yang tidak dikenal, aku harus menyebutnya apa..” Diana bertanya dan terlihat sedang berpikir.

“Kepada seorang yang tidak dikenal” Sambung sosok tersebut.

Diana menuliskan kalimat pada kertas di hadapannya.


Temani aku dalam pencarian panjang ini,
Jangan abaikan aku sekali saja, karena kita adalah nahkoda dalam lautan bimbang ini,
Temukan aku segera, sadarkan aku jika melupakanmu
Teman seperjalanan,
Kembalikan ingatanku.

Kepada kamu, teman, rekan, sahabat, saudara, keping jiwaku.
Seorang yang tidak kukenal.

Diana.


Senin, 17 April 2017

Trotoar Malam Itu



Cinta.
Ungkapan bahagia tak pasti yang tak bisa—sesungguhnya tidak dapat didefinisikan, kadang ia hadir membawa rona pada wajahku dan membuat pipi serasa hangat, hembusan nafas seolah tercekat, muka serasa terbakar sejenak, jatung berdegup kencang dan aku tahu, aku bahagia. Kadang juga ia hadir menyayat hati, menusukan pisau tak kasat mata yang tidak melukai tubuh bagian luarku, tetapi di dalam ini, dadaku, aku merasakan sakit yang sangat hebat. Apa itu cinta?
Dari sekian banyak definisi, tidak satupun yang aku setujui arti dan maknanya karena selalu ada celah untuk menyalahkan. Bagiku?
Bagiku cinta adalah kebodohan dan ketidakwarasan. Bodoh,  saat aku tahu dia akan menyakiti,  tetapi kunikmati—menerimanya, juga  ketidakwarasan, saat kutahu ia mengabaikanku, namun harapku ia menganggapku ada—walau jelas tidak ada aku dalam benaknya.

*

            Perpaduan bodoh dan tidak waras tersebutlah yang membuatku ada di posisi ini. Sudah terlalu lama aku akrab dengan mereka, hingga tak kuanggap menjadi musuh lagi kehadiran keduanya, seutuhnya kuterima—merekalah perwujudan cinta yang aku nikmati.

Kutekuri sisi jalan dalam menung, sesekali kendaraan yang berseliweran dengan angkuh menggelegarkan suara kasarnya, para pengendara congkak ini memekakan hening dengan suara nyaring. Di sinilah aku ditemukan, bergerak dengan perlahan menyusuri trotoar pinggir jalan ini, ditemani sosok yang kukagumi—mungkin dulu lebih tepatnya, namun, Ah! Aku gusar, kuakui bahwa aku melepasnya, tetapi, tak bisa kupungkiri bahwa pesonanya masih memenjarakanku. Jadi seperti apakah aku ini? Aku berangan bebas, namun, terkurung—bahkan dirantai, oleh rasa tak pasti yang penyebabnya ada di sampingku saat ini. Kami terus berjalan melalui trotoar sisi jalan ini.

            Aku memandang ke langit yang kelabu, warna langit malam mengingatkanku pada mendung awan sebelum hujan, aku suka awan, aku juga menyukai hujan, menikmati rintik dan menghirup udara sehabis hujan memberikanku ketenangan yang tidak bisa aku ungkapkan. Kurasakan dingin angin malam menghempas tubuhku, segera kurengkuh badan ini dengan menyelimuti dan memeluknya menggunakan dua sisi jaketku. Kembali ku tatap dengan pandangan nanar, seliweran kendaraan yang lalu lalang. Aku merasa diejek dan dihempas oleh hina. Angin menari disekitarku dan hiruk pikuk ketidak pedulian bertengger di samping kegelisahanku.

Kuhelakan nafas panjang, selangkah kecil demi demi langkah berikutnya, di tengah keramaian, hadirnya senyap antara aku dan pria di sampingku saat ini. Kami hanya diam. Baru beberapa langkah kecil kutapaki, aku mencuri pandang pada sosok di sampingku, sebelum ketahuan mengaguminya, kulemparkan pandangan kedepan, senyum tipis tercipta di bibirku—aku tidak mengerti akan diriku.
Dalam senyap ini, di tengah ramai suara kendaraan, aku menoleh ke sisi lain jalanan. Seperti dihipnotis dan dibius ketidakberdayaan, kurasakan ragaku seperti tidak di sini, konsentrasiku pudar dan anganku lepas, jiwaku terbang seolah meninggalkan raga. Aku melesat, ke suatu tempat, menuju suatu masa—masa lalu, dan kepingan gambar-gambar yang bergerak memenuhi diriku. Aku ingat masa itu. Ingatan dimana aku dan dia pertama kali bertemu.

**

“Lu ngapain di sini?” Suara laki-laki di belakangku membuatku akhirnya menoleh.

“Kenapa emangnya?” Tanyaku ketus.

“Lu engga perhatikan baik-baik instruksi senior?” Ia menatapku tajam.

“Kenapa sih? Apanya yang salah?” Aku mulai ragu dengan posisiku sekarang dan memperhatikan barisan di sekeliling.

“Ini barisan cowok, lu ngapain masuk di sini?” Balasnya kembali dengan nada meninggi, sempat kutangkap senyum sinis di wajahnya.

“EH??, salah ya.. aduh maaf-maaf..” Aku keluar dari barisan tersebut dan buru-buru mencari barisan lain, walaupun aku sendiri tidak mendengar jelas apa yang senior katakan, namun, dari apa yang laki-laki tersebut katakan, aku bisa menyimpulkan bahwa laki-laki dan perempuan ditaruh pada barisan terpisah.

Saat sudah berpindah barisan, aku merasa risih karena seperti sedang diawasi seseorang, kuberanikan diri untuk menoleh pada barisan samping, terlihat laki-laki yang sinis tadi melemparkan senyum ke arahku.

“Heh?” Responku singkat sambil mencoba senyum seadanya. Cowok aneh! Modus banget senyumnya!

Program ospek fakultas yang aku ikuti berlangsung sehari saja dikarenakan adanya aturan yang mulai melarang adanya ospek karena menyebabkan banyaknya pem-bully­an juga kekerasan. Aku beruntung berada di angkatan ini.
Sehari sudah berlalu, esoknya kami para mahasiswa baru sudah diijinkan untuk datang ke fakultas masing-masing dan mengikuti pengarahan yang akan diberikan oleh para pemimpin juga senior yang ada di fakultas.
Aku datang pagi-pagi untuk mengikuti arahan hari ini karena takut akan terlambat dan menjadi bulan-bulanan senior, walaupun senioritas sudah dihapuskan, namun, perkataan sinis tetap menjadi budaya yang beberapa senior suka kumandangkan, bagiku hal ini termasuk bully.
            Mahasiswa baru yang satu jurusan denganku juga satu angkatan dikumpulkan dalam ruangan ini. Beberapa arahan diberikan oleh para dosen juga senior, mulai dari perkenalan para pemimpin fakultas, keunikan kampus hingga arahan profesi setelah lulus nanti, peluang kerja apa saja yang bisa ditekuni setelah lulus dari tempat ini. Waktu berlalu, dari pagi hingga siang hari mendengarkan arahan yang diberikan membuatku mengantuk, fokusku buyar saat beberapa mahasiswa baru saling berkenalan dan mulai riuh. Kami dibiarkan diam dalam ruangan, sementara para senior dan dosen meninggalkan ruangan untuk istirahat, sungguh tidak adil.
Lamunanku terganggu oleh seseorang dibelakangku,
“Hai..” Sapanya. Kuperhatikan baik-baik sosok tersebut..
“Mau informasi engga?” Lanjutnya sambil terus memandangiku yang termanggu.

“Apa?” Jawabku singkat.

“Kenalan dulu dong..” Ia menyodorkan tangannya disertai senyuman pada wajahnya.
“Nama lu siapa?..” lanjutnya.

“Eza Helna Raya” Jawabku seadanya.

“Panggil gue Shin..” Ia melepaskan salamannya dan terus memperhatikanku..
Aku gugup dan coba melanjutkan.. “Udahkan? Apa infonya?..”.

Ia kembali tersenyum.
“Besok datang lagi ya, pakai pakaian yang sama kayak sekarang, pakai almet, rambut lu kepang dan bawa tanaman hijau..”. Aku terperangkap dalam tatapannya yang tak lepas memperhatikanku. “Ngertikan?” Pungkasnya.

“I-iya..”.

“Boleh minta kontak lu engga?” Ia mengeluarkan handphone dari saku celananya.

“Bentar..” Aku meraih hpku dan memberikan kontakku padanya.

            Seperti kisah klise yang umumnya terjadi, itu adalah awal dari kedekatanku padanya. Kami sempat menjalani hubungan layaknya sepasang kekasih, namun, kisah kami kandas. Ada hal yang belum kuat untuk hatiku mengisahkannya.
Yang pasti, posisi sekarang..
Di sinilah aku berada.. Sudah dua tahun sejak pertemuan pertama kami..

            Malam ini, ia berjalan di sampingku dengan acuh, tidak mengungkapkan satu katapun. Kami terus berjalan menyusuri trotoar ini.
Sore tadi ia menghubungiku untuk bertemu, segera ku iyakan, tidak bisa kupungkiri, apapun yang ia minta, sejauh ini dalam hidupku, tepatnya setelah kisah dua tahun yang lalu, sebisaku, akan selalu kuturuti kemauannya. Begitu juga dengan malam ini, walau aku hanya menjadi teman heningnya dalam perjalanan di trotoar ini, aku merasa bahagia.

Mengapa aku begitu bodoh dan lumpuh oleh ketidakwarasan dalam cinta..

Langkah itu tiba-tiba berhenti.

Aku ikut membatu, menghentikan gerakku..

Ia mengarahkan badannya menghadapku, aku hanya bisa tertunduk sambil sesekali mencoba menantang padangan itu, ia menatapku seperti pada tatapan pertamanya dulu, tetap mata dan tatapan yang sama.

“Za.. lu kapan sih bisa ngelepasin gua? Biar gua bebas..” Ia menatapku dengan dalam. Aku terkesiak, kata-katanya begitu menyakitkan bagiku, bagaikan pisau yang menusuk jantung.

Jadi aku adalah penghalang kebebasannya?

Aku berbalik dari hadapannya, kembali kutekuri trotoar ini, suara kendaraan terus lalu-lalang tak kuhiraukan. “Biar gua bebas..”
Tetap kata-katanya barusan menggema dalam batinku.
Apakah aku penghalang kebebasannya?

Bodoh dan tidak waras. Sudah terlalu lama aku akrab dengan mereka, hingga tak kuanggap menjadi musuh lagi kehadiran keduanya, seutuhnya kuterima—merekalah perwujudan cinta yang aku nikmati. Namun...
Kali ini, aku ragu akan rasa ini..
Apa itu cinta?